Rabu, 03 Maret 2010

Jerit Sahabat

Begitu judul syair lagu milik Bang Ebiet G Ade, salah seorang penyanyi yang amat kukagumi,
Begini bunyi beberapa penggal syairnya;
Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Syair yang mungkin akan memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap yang mendengarnya. Dan begitupun denganku, manusia kecil ini. Dahulu, deretan kata itu hanyalah syair biasa yang berarti tak lebih dari sebuah karya milik Bang Ebiet. Namun kini, syair itu menjelma menjadi serentetan alunan yang amat sarat makna pribadi, yang tiba-tiba saja mampu membuatku terdiam bermenit-menit, mengulang-ngulang lagu itu, meresapi, dan kemudian merasa ada sesuatu yang merembes keluar dari palung hatiku. Ya, syair itu membuat hatiku bercucuran air mata.

Mungkin engkau bertanya-tanya mengapa aku bisa demikian? Tentu harus ada alasan realistis dan masuk akal yang dapat menjelaskan mengapa aku begitu suka rela mengulang-ngulang menyetel lagu Bang Ebiet itu di music playerku. Sayangnya, aku sendiri tak tahu, apakah alasanku cukup memenuhi standar realistis, karena alasan yang kumiliki hanyalah; lagu itu seperti seorang kawan yang setia menemaniku. Ia amat loyal dan pengertian.
Syair-syair lagu Bang Ebiet layaknya kawan yang rela menerimaku bersandar di pangkuannya, dan tanpa berlama-lama...aku mampu berkeluh kesah tentang segala kerinduan.
Lewat lagu itu, aku seolah bersua dengan Bapakku, orang yang satu bulan lalu pergi menemuiNya, terpaksa meninggalkanku dan semua yang mencintainya,
Lewat lagu itu, aku seperti memeluk Bapakku, yang seumur-umur, aku jarang sekali memeluknya kecuali ketika aku berumur lima tahun, ketika ia menaikkanku di pangkuannya atau ketika ia mengangkat tubuh mungilku untuk dimainkan bak pesawat terbang,
Lewat lagu itu, aku layaknya mendapat satu manuskrip tebal berisi perjuangan hidup Bapakku, yang aku tahu amat berarti, karena ia adalah lelaki paling bersemangat dan paling tulus yang pernah kutemui,

Lewat lagu itu, aku bak melihat siluet wajah Bapakku, yang masih lekat jelas hingga kini di memori otakku, wajahnya yang agak hitam, dengan kumis tipis jarang-jarang, mata hitam agak sipit, hidung besar, dan bibir yang bila tersenyum akan terlihat ceria dan merekah,
Lewat lagu itu, aku tak pelak menyaksikan bagaimana rupa-rupa Bapakku dahulu, ketika dahulu rupa-rupa itu tak begitu penting, namun sekarang menjadi amat berharga menjadi semacam harta karun di sistem memoriku,

Rupa-rupa kejenakaan Bapakku ketika ia melucu, rupa keangkeran ketika Bapakku marah dan kecewa, juga rupa Bapakku ketika ia bahagia, sedih, dan bangga.
Jika ia sedang melucu, hidungnya akan mengkerut, jika ia tengah marah, dahinya akan berlipat dan matanya akan menyempit, jika ia kecewa, wajahnya akan kendur, jika ia bahagia, bibirnya akan merekah sepanjang hari, jika ia sedih, matanya akan terpejam sesaat, dan jika ia bangga, hidungnya akan merekah sama lebarnya dengan bibirnya.
Lewat lagu itu aku dapat menitipkan rinduku untuk Bapakku, rindu biasa selayaknya milik anak perempuan kecil yang pergi ke pasar berdua dengan Bapaknya, lalu tersasar dan terpisah dengan Bapaknya tadi. Rindu ingin bersua kembali, dan meminta agar Bapaknya itu tak lagi meninggalkannya jauh-jauh.--bieq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar