Jumat, 05 Maret 2010

cinta Vs Derita --Doel

CATATAN KAKI: CINTA VS. DERITA

Awalnya aku hanya iseng saja menanyakan perihal berat badan itu. Disadari atau tidak, perempuan seringkali mengalami kegemukan saat mereka stress (tidak melulu obesitas, paling tidak berat badannya naik drastis). Nah, sejak sms-sms kita waktu itu aku jadi terobsesi untuk dapat mengetahui lebih lanjut seluk beluk permasalahanmu. Bukan apa-apa, bisa dikatakan ini hanya untuk memenuhi rasa ingin tahuku saja. Tak lebih. Sebab itulah aku mengusulkan agar kita dapat bertemu. Dan ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk dapat bertemu apalagi berbincang denganmu. Mungkin karena pertemuan itu tidak benar-benar kita perlukan, atau memang waktunya saja yang belum tepat.
Tulisan ini lahir tidak dimaksudkan sebagai bentuk terapi tulis apalagi untuk menggurui dirimu. Aku hanya bermaksud untuk tukar pikiran (aku tidak mau jadi neurotis gara-gara suka memendam pemikiranku!) lewat goresan-goresan kasar ini. Semoga tulisan ini dapat menginspirasimu, atau setidaknya dapat membuatmu berkerut dahi alias berfikir. Selamat membaca!.

Sejak permulaan adanya masyarakat manusia, tiap anak yang lahir ‘dipaksa’ mengenakan topeng (persona, Jung) hingga akhir hayatnya. Ini merupakan kutukan dari kelancangan nenek moyang kita yang telah memakan buah pohon pengetahuan. Bagaimanapun ilmuwan psikologi macam Adler atau Allport yang menawarkan teori kepribadian individualis, mereka tetap tak mampu menampik peran masyarakat dalam pembentukan kepribadian manusia. Kembali pada persoalan persona tadi. Sedari kita kecil – bahkan saat kita belum mengenal siapa diri kita, mungkin kamu masih ingat bagaimana orangtuamu dulu saat kamu balita mengatakan, “Ayo Suraya, coba ibu lihat mana senyumnya…..nah, cantik,” dan perkataan (perintah) lainnya semacam itu. Saat itu kita belum lagi mengenal diri, yang kita tahu bahwa apa yang kita lakukan itu dapat menggembirakan orang-orang di sekeliling kita dan itu membanggakan orangtua. Intinya, berlakulah sebagaimana yang orangtua inginkan, maka uang pujian, uang saku, juga hadiah akan kau dapat; berlakulah sebagaimana gurumu ajarkan, maka nilaimu akan bagus; berlakulah sesuai adat, maka kau akan dianggap orang yang baik; berlakulah sebagaimana akhlaq yang diajarkan guru agama, maka kau akan dianggap anak yang shaleh. Meski dengan semua itu kita seringkali mengesampingkan keinginan-keinginan kita. Apa yang baik adalah apa yang sesuai dengan perkataan orangtua, guru, teman-teman, media, buku, norma, undang-undang, dan segala macam aturan di sekelilingmu. Maka saat kita sedang bersama orangtua, kita kenakan topeng “anak yang patuh”. Topeng “siswa teladan” saat di sekolahan, topeng “teman sejati” saat bersama kawan, topeng “wanita idaman” saat bersama kekasih, dan topeng-topeng lainnya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Makin lama koleksi topeng kita semakin banyak, bahkan untuk sebuah situasi kita telah memiliki topeng cadangan – sebentuk pembelaan diri (ego diffense system)--yang dapat kita kenakan saat keadaan mendesak. Lambat laun kitapun mengalami ketergantungan akan topeng-topeng itu dan tak lagi dapat lepas darinya. Dan akhirnya topeng-topeng itu lengket, menempel, dan melebur ke dalam diri. Diri kita tak lain adalah kumpulan topeng-topeng yang kita kenakan sejak kecil.

Aku adalah topeng yang kukenakan. Kau adalah topeng yang kau hadirkan padaku.

Tatkala kau katakan telah putus dari pacarmu, entah mengapa aku langsung teringat bagaimana saat semester satu kau begitu antusias menceritakan kedatangan pacarmu dengan penuh keriangan pencinta. Senyum menghiasi segala tingkahmu. Segala hal sepertinya berbunga bagimu (kau boleh mengingat dan mengenang sejenak saat-saat itu. Teruskan baca ini bila kau telah usai dengan kenangan itu). Tentu saja ini bukanlah keputusan yang tiba-tiba tanpa diawali sebuah perenungan darimu. Dan entah bagaimana bentuk topeng yang kau kenakan di situasi semacam ini.

Tak ada satupun manusia yang menghendaki hidup dalam penderitaan. Meski demikian, manusia tak bisa lepas dari penderitaan dalam menjalani kehidupannya. Benar, tak ada orang yang sudi menderita, tapi pada kenyataannya semua orang mencari kepedihan dan pengorbanan, baru sesudah itu mereka mendapatkan pembenaran, merasa dirinya suci murni, pantas dihormati kekasihnya, anak-anaknya, suami dan tetangganya, dan dikasihi Tuhan.
Apakah seorang tentara terjun ke pertempuran untuk mebinasakan musuh-musuhnya? Tidak, dia pergi berperang untuk mati demi negaranya. Apakah seorang hamba beribadah demi pencapaian spritualnya? Tidak, ia menistakan dirinya demi sebentuk surga. Apakah si lelaki pergi kerja demi menemukan kepuasan dirinya? Tidak, dia memeras keringat dan air mata demi menyejahterakan keluarganya. Apakah si wanita/istri ingin menunjukkan betapa dia bahagia? Tidak, dia hanya ingin menunjukkan betapa sebagai perempuan dia sudah berbakti dan menderita demi membahagiakan lelakinya. Begitulah sejatinya; anak-anak yang rela melepas impiannya demi memuaskan ambisi orangtuanya, orangtua yang mengorbankan hidupnya demi membahagiakan keluarganya; pokoknya penderitaan dan kepedihan digunakan sebagai alasan untuk membenarkan sesuatu yang hanya mendatangkan kebahagiaan, yaitu cinta.
Cinta ialah pembebas; memerdekakan jiwa sang pencinta, membantunya meraih impian-impiannya, menjaga kehormatannya, cahaya bagi lorong gelap kehidupannya. Pikirkanlah, renungkanlah.

Jika sejak awal “cinta”mu adalah penderitaan dan kepedihan dari topeng yang kau kenakan; alasan-alasan bagi sebentuk kesenangan, mengerdilkan pribadimu, merenggut kebebasan jiwamu, menghambatmu meraih impian-impianmu, siap-siaplah menyesal. Itu bukanlah cinta. Ia hanyalah cinta semu, fatamorgana dari halusinasi nafsu yang dilapisi kesenangan-kesenangan sesaat. Parasit hitam yang menempel di hatimu. Lepaskan segera topeng itu. Tarik kembali pribadimu menuju kesadaran. Tampar dirimu sendiri biar sadar.

Kita tak mungkin mampu menghapus kenangan “cinta”. Apa yang dapat kita lakukan adalah mencoba melupakannya dan memaafkan diri atas semua itu. Kita mengharapkan kebahagiaan, justru yang kita ingat adalah kepedihan-kepedihan yang pernah kita alami. Kita menginginkan sesuatu, justru kita melakukan hal yang tak kita inginkan. Kita menangis justru saat seharusnya kita tertawa. Kita bukanlah tuan meski bagi diri kita sendiri. Oleh sebab itu, berbuat bajiklah. Itu dapat membantumu fokus pada masa depan; membuatmu berfikir, mengingat dan berlaku pada jalan kebajikan. Sehingga itu dapat menutupi kepedihan-kepedihanmu. Agar Tuhan memberkatimu dengan membuat lupa dirimu akan kepedihan-kepedihan itu dan membuat lupa orang-orang di sekitarmu atas keselahan-kesalahanmu di masa lalu.

Cintailah Cinta. Bermimpilah, yakini impian itu dan biarkan cinta membimbingmu meraih impian itu.

Kakap X, 28-04-09, 06:12 am
--doel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar