Jumat, 05 Maret 2010

Dendam Semesta Keni Pangrango

Karya : Tamara Keni Jumat, 5 Maret 2010

Semesta Keni Pangrango. Darah daging jantanku, pertama. Irang, nama yang kerap digaungkan. Delapan belas tahun sudah Irang menghuni bumi. Tak lagi Dia merengek, menangis meraung-raung, apalagi meninggalkan jejak pesing di celana. Rambutnya lebat, semi gondrong dengan belahan di tengahnya yang tergerai lurus. Berbeda dengan mahkota yang kukenakan, bergelombang bak ombak di tepian pantai. Tajam matanya melebihi sorot liarku di masa muda. Tegas, tak mudah roboh. Raganya berotot, tegap berisi lagi tinggi. Kuning langsat, warna yang membalur tubuhnya.

Dia menyusuri jalan setapak yang tidak sepadan dengan lorong yang telah kuarungi. Aku dan Dia, Ayah dan anak berbenturan paradigma. Sastra, menu makan keseharianku; Ilmu pasti sudah jadi cemilan Irang. Waktu luang, aku habiskan membenamkan diri berkhayal dan berimajinasi. Sedangkan “game” adalah waktu senggangnya. Tembok, cat dan kuas kupilih sebagai teman bicara. Bagi Irang, Sungai, kail dan pancing jadi sahabat karib dalam keheningan semesta. Begitulah, Irama dan aliran musik ibunya telah mengendap erat, menyatu-melebur bersama dirinya.

Disuatu senja yang telah lalu, pernah Aku dibuatnya membusungkan dada dan menundukan kepala. Memang tak mudah bagi Irang untuk bertutur kata menyuguhkan gumpalan-gumpalan batin ataupun bening embun indrawi kepada binatang berakal, kecuali terhadap sosok ibu dan aku, ayahnya. Dia mengisahkan, bagaimana tak sedikit di antara kaum hawa yang jatuh bangun meraih simpatinya. Tak kuungkiri, paras Irang membawai Gen Estetika dari istriku. Dia memiliki kharismatik yang mengundang decak kagum sekaligus menautkan virus “ sindroma pink” kepada wanita lekat, lekat dan lekat.

Acap kali, Bercorak –corak Bidara bertandang ke rumah. Telah siap dengan sekelumit alasan sebagai alat perisai. Kurang lebih; pinjam catatan, menanyakan tugas sekolah, menawarkan kue basah buatan tangan, hingga menumpang buang tahi di WC. Cuek, Anakku menanggapi sekedarnya. Topeng “sumringah” tak kan lupa dia pasang, sedikit bicara, enggan bertanya, dan cukuplah lima menit untuk bersua. Jika pesan-pesan pendek para bidara masuk, jari-jari Irang terantuk. Belaka, bunyi nada panggilan hanya angin lalu.

Dia berujar kepada Alam dan ayahnya bahwa dirinya tengah membalaskan dendam seseorang, dari fana hingga maya. Seseorang yang Dia maksud, itu Aku. Segenggam penasaran mulai muncul ke permukan. Tapi takkan kutanyakan mengapa? Bagaimana kau dapati itu aku?. Biarlah, keberanian yang akan membujukmu menghapuskan keabstrakan.

Sore beranjak kelam, Aku menyebutnya malam. Semberit angin berkeliaran di atap-atap rumah, gedung, juga pohon. Bercengkerama di sela pergantian waktu. Melengking tinggi, daun-daun bergesekan melantunkan bisik dawai di awal petang bercahayakan rembulan. Begitu, saat suasana yang mengiringi Irang menguraikan tela’ahnya untukku, kali ini tanpa telinga dan bibir ibunya. Hanya Aku dan Dia, Ayah dan anak.

Bersambung…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar